Jumat, 04 Februari 2011

laporan ekologi


Estimasi Besarnya Populasi Penyusun Komunitas dengan Metode Simulasi Kacang Merah

I. Tujuan                                    
a. Untuk menerapkan metode CMRR ( Capture, Mark, Release, and Recapture)
b.  Untuk memperkirakan atau mengestimasi besarnya populasi yang bergerak lambat.
II. Hari / Tanggal Praktikum
Selasa, 13 April 2010
III.  Pendahuluan
Capture, Mark, Release, Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi. Merupakan metode yang umumnya dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus.          Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson. Untuk metode sampling biotik hewan bergerak biasanya digunakan metode capture-recapture. Merupakan metode yang sederhana untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung dan mamalia kecil. Metode CMMR ini dilakukan dengan mengambil dan melepaskan sejumlah kancing yang dianggap sebagai besarnya populasi yang ada menggunakan kancing hitam dan putih yang dianggap sebagai populasi yang tersebar di alam. Hasil memperlihatkan banyaknya populasi yang ditandai dengan kancing berawarna putih dan akan ditandai dengan kancing hitam.
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lainnya parameter ini tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin.N.M.1989).
Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu (Soetjipta.1992).
. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam (Naughton.Mc.1973).
Tingkat pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian, juga mempengaruhi struktur umur dan populasi (Hadisubroto.T.1989).
Suatu populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan.
Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan.
Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan satuan ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau biomassa per satuan luas per satuan isi. Kadang kala penting untuk membedakan kerapatan kasar dari kerapatan ekologik (=kerapatan spesifik). Kerapatan kasar adalah cacah atau biomassa persatuan ruang total, sedangkan kerapatan ekologik adalah cacah individu biomassa persatuan ruang habitat. Dalam kejadian yang tidak praktis untuk menerapkan kerapatan mutlak suatu populasi. Dalam hal itu ternyata dianggap telah cukup bila diketahui kerapatan nisbi suatu populasi. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara :
1. Penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya.
2. Metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi(Peterson) (Soetjipta.1992).
Parameter populasi berhubungan dengan perubahan kemelimpahan dapat digambarkan sebagai berikut:
Natalitas
 

            +

Densitas Populasi di habitat
 
                                    +                                                          _
Imigrasi                                                                                   Emigrasi

                                                            _

Mortalitas
Keempat proses diatas merupakan parameter utama populasi.
Pada model kacang koro merah rumus dasar yang digunakan untuk menghitung adalah rumus Peterson (Krebs 1984) sebagai berikut:

N = CM/R
Dengan arti masing – masing symbol sebagai berikut:
N : cacah hewan di alam atau dalam populasi
C : cacah hewan dalam sampel
M : cacah hewan yang ditandai (putih)
R : cacah hewan yang ditandai yang tertangkap kembali dalam pengambilan cuplikan berikutnya

       I.            Alat dan Bahan                                
a.       Kacang merah ( belalang), sebagai binatang uji
b.      Kacang Putih ( jangkrik ), sebagai binatang uji
c.       Stoples 2 buah (simulasi habitat)
d.      Penanda / Tipe X
e.       kalkulator 
f.       alat tangkap berupa genggaman tangan   
    II.            Metode / cara kerja              
Metode yang digunakan adalah dengan menerapkan metode CMRR, yaitu :
a.       Menandai sebagian  kacang merah dengan tipe X yang kemudian disebut sebagai kacang putih.
b.      Mengambil segenggam kacang merah, menghitung cacahnya. Kemudian mengganti cacah kacang merah tersebut dengan sejumlah kacang putih. Cara ini bertujuan untuk menandai. Kacang putih merupakan simulasi binatang yang telah ditandai.
c.       Kemudian stoples tersebut digojog dengan konstan agar kacang yang diandai (putih) akan tercampur secara homogen dengan populasi kacang merah.
d.      Mengambil cuplikan yang kedua dengan cara yang sama; kemudian menghitungnya dan apabila terdapat sejumlah kacang warna merah, maka dicatat sebagai M. Sedangkan cacah kacang warna putih yang tertangkap kedua dicatat sebagai R.
e.       Melakukan cuplikan berikutnya seperti di atas sampai 5 kali.

 III.            Hasil Pengamatan                

S
C
M
( putih )
R
( merah)
C.M
C.M2
M.R
1
84
43
41
3612
13046544
1763
88,097
2
65
36
29
2340
5475600
1044
80,689
3
55
27
28
1485
2205225
756
53,035
4
44
17
27
748
559504
459
27,703
5
35
16
19
560
313600
304
29,473


Rata-rata   =
= 55,799
= 56
Keterangan:
C         : Jumlah Populasi serangga
M         : Jumlah Populasi hewan berrgerak lambat (jangkrik)
R         : jumlah Populasi hewan bergerak cepat (belalang)

 IV.            Pembahasan                         
Pada praktikum ini kami memperoleh data bahwa hewan yang mudah ditangkap (bergerak lebih lambat) jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan hewan yang bergerak cepat, dan ini sudah cukup mewakili keadaan sebenarnya pada ekosistem alami. Akan tetapi perbandingannnya sama karena presentase hewan yang bergerak cepat dan lambat hampir sama. Metode CMRR ini sangat efektif dalam membantu dalam penelitian, karena cukup murah dan hasil yang didapat cukup akurat serta tidak memakan banyak waktu.
Dari percobaan dapat terlihat bahwa salah satu hal yang menakjubkan dalam penelitian ialah kenyataan bahwa kita dapat menduga sifat-sifat suatu kumpulan objek penelitian hanya dengan mempelajari dan mengamati sebagian dart kumpulan itu. Bagian yang diamati itu disebut sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut populasi. Objek penelitian dapat berupa orang, hewan, maupun tumbuhan.
Dalam penelitian, objek penelitian ini disebut satuan analisis (units of analysis) atau unsur-unsur populasi. Bila kita meneliti seluruh unsur populasi, kita melakukan sensus. Sensus mudah dilakukan bila jumlah populasi terbatas. Sensus, memang, tidak selamanya sempurna. Hasil sensus, Yang mengungkapkan karakteristik populasi (seperti rata-rata, ragam, modus, atau (range), disebut parameter.
Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak, padahal kita ingin menghemat biaya dan waktu, kita harus puas dengan sampel. Karakteristik sampel disebut statistik. Kita sebetulnya tidak tertarik pada statistik. Kita ingin menduga secara cermat parameter dart statistik. Metode pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel harus mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif. Sebaliknya sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur populasi untuk dipilih. Memang, sampel mungkin menunjukkan karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus (Neter, Wasserman, Whitmore, 1979: 195). Statistik dapat membantu kita menentukan sampling error hanya bila kita menggunakan sampel tak bias.
Sampel tak bias adalah sampel yang ditarik berdasarkan probabilitas (probability sampling). Dalam sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai nilai kemungkinan tertentu untuk dipilih. Karena sampel ini mengasumsikan kerandoman (randomness), maka sampel probabilitas lazim juga disebut sebagai sampel random. Bila kita mengambil sampel tertentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita memperoleh sampel pertimbangan (judgemental sampling), disebut juga sample non-probabilitas. Untuk kedua jenis sampling ini, ada beberapa alternatif teknik penelitian sampel. Teknik penarikan sampel sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design).
Dari praktikum yang telah dilakukan mengenai simulasi estimasi populasi hewan. Kami mendapatkan hasil perhitungan menggunakan rumus Schanabel, maka didapat hasil 3612 dan standart errornya adalah 1763 Sedangkan pada data yang dilakukan perhitungan dengan Patersen didapat hasil 2340 dan standart errornya adalah 1044 .Dan selisih yang didapat adalah 449,5 maka untuk selang kepercayaannya tidak dapat kami tampilkan hasil, dikarenakan tidak adanya table distribusi untuk perhitungan.
Model Peterson menangkap sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan ( Penangkapan Ke 2 terhadap sejulah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah diidentifikasi indifidu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan ke dua. Metode schanebel ini dapat digunakan untuk mengurangi ke tidak validan dalam metode Patersen. Metode ini membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2 kali. Untuk setiap periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali. (Agus.1994)






    V.            Kesimpulan
• Percobaan simulasi estimasi populasi hewan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu metode Capture-Mark-Release-Recapture (CMMR)
• Penghitungan sebaran populasi yang diperoleh dapat dilakukan dengan penghitungan Schanabel dan Patersen. Penggunaan rumus Schanabel lebih akurat karena perhitungan dilakukan untuk setiap cuplikan yang dilakukan.
• Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu.



















Daftar Pustaka

Agus,Subagyo 1994. Penuntun Ekologi Umum. Universitas jambi:Jambi
Hadisubroto,tisno.1989. Ekologi Dasar.DeptDikBud : Jakarta
Naughhton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press : Yogyakarta
Soetjipta.1992.Dasar-dasar Ekologi Hewan.DeptDikBud DIKTI : Jakarta
Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara : Jakarta



laporan ekologi


Estimasi Besarnya Populasi Penyusun Komunitas dengan Metode Simulasi Kacang Merah

I. Tujuan                                    
a. Untuk menerapkan metode CMRR ( Capture, Mark, Release, and Recapture)
b.  Untuk memperkirakan atau mengestimasi besarnya populasi yang bergerak lambat.
II. Hari / Tanggal Praktikum
Selasa, 13 April 2010
III.  Pendahuluan
Capture, Mark, Release, Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi. Merupakan metode yang umumnya dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus.          Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson. Untuk metode sampling biotik hewan bergerak biasanya digunakan metode capture-recapture. Merupakan metode yang sederhana untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung dan mamalia kecil. Metode CMMR ini dilakukan dengan mengambil dan melepaskan sejumlah kancing yang dianggap sebagai besarnya populasi yang ada menggunakan kancing hitam dan putih yang dianggap sebagai populasi yang tersebar di alam. Hasil memperlihatkan banyaknya populasi yang ditandai dengan kancing berawarna putih dan akan ditandai dengan kancing hitam.
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lainnya parameter ini tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin.N.M.1989).
Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu (Soetjipta.1992).
. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam (Naughton.Mc.1973).
Tingkat pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian, juga mempengaruhi struktur umur dan populasi (Hadisubroto.T.1989).
Suatu populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan.
Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan.
Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan satuan ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau biomassa per satuan luas per satuan isi. Kadang kala penting untuk membedakan kerapatan kasar dari kerapatan ekologik (=kerapatan spesifik). Kerapatan kasar adalah cacah atau biomassa persatuan ruang total, sedangkan kerapatan ekologik adalah cacah individu biomassa persatuan ruang habitat. Dalam kejadian yang tidak praktis untuk menerapkan kerapatan mutlak suatu populasi. Dalam hal itu ternyata dianggap telah cukup bila diketahui kerapatan nisbi suatu populasi. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara :
1. Penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya.
2. Metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi(Peterson) (Soetjipta.1992).
Parameter populasi berhubungan dengan perubahan kemelimpahan dapat digambarkan sebagai berikut:
Natalitas
 

            +

Densitas Populasi di habitat
 
                                    +                                                          _
Imigrasi                                                                                   Emigrasi

                                                            _

Mortalitas
Keempat proses diatas merupakan parameter utama populasi.
Pada model kacang koro merah rumus dasar yang digunakan untuk menghitung adalah rumus Peterson (Krebs 1984) sebagai berikut:

N = CM/R
Dengan arti masing – masing symbol sebagai berikut:
N : cacah hewan di alam atau dalam populasi
C : cacah hewan dalam sampel
M : cacah hewan yang ditandai (putih)
R : cacah hewan yang ditandai yang tertangkap kembali dalam pengambilan cuplikan berikutnya

       I.            Alat dan Bahan                                
a.       Kacang merah ( belalang), sebagai binatang uji
b.      Kacang Putih ( jangkrik ), sebagai binatang uji
c.       Stoples 2 buah (simulasi habitat)
d.      Penanda / Tipe X
e.       kalkulator 
f.       alat tangkap berupa genggaman tangan   
    II.            Metode / cara kerja              
Metode yang digunakan adalah dengan menerapkan metode CMRR, yaitu :
a.       Menandai sebagian  kacang merah dengan tipe X yang kemudian disebut sebagai kacang putih.
b.      Mengambil segenggam kacang merah, menghitung cacahnya. Kemudian mengganti cacah kacang merah tersebut dengan sejumlah kacang putih. Cara ini bertujuan untuk menandai. Kacang putih merupakan simulasi binatang yang telah ditandai.
c.       Kemudian stoples tersebut digojog dengan konstan agar kacang yang diandai (putih) akan tercampur secara homogen dengan populasi kacang merah.
d.      Mengambil cuplikan yang kedua dengan cara yang sama; kemudian menghitungnya dan apabila terdapat sejumlah kacang warna merah, maka dicatat sebagai M. Sedangkan cacah kacang warna putih yang tertangkap kedua dicatat sebagai R.
e.       Melakukan cuplikan berikutnya seperti di atas sampai 5 kali.

 III.            Hasil Pengamatan                

S
C
M
( putih )
R
( merah)
C.M
C.M2
M.R
1
84
43
41
3612
13046544
1763
88,097
2
65
36
29
2340
5475600
1044
80,689
3
55
27
28
1485
2205225
756
53,035
4
44
17
27
748
559504
459
27,703
5
35
16
19
560
313600
304
29,473


Rata-rata   =
= 55,799
= 56
Keterangan:
C         : Jumlah Populasi serangga
M         : Jumlah Populasi hewan berrgerak lambat (jangkrik)
R         : jumlah Populasi hewan bergerak cepat (belalang)

 IV.            Pembahasan                         
Pada praktikum ini kami memperoleh data bahwa hewan yang mudah ditangkap (bergerak lebih lambat) jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan hewan yang bergerak cepat, dan ini sudah cukup mewakili keadaan sebenarnya pada ekosistem alami. Akan tetapi perbandingannnya sama karena presentase hewan yang bergerak cepat dan lambat hampir sama. Metode CMRR ini sangat efektif dalam membantu dalam penelitian, karena cukup murah dan hasil yang didapat cukup akurat serta tidak memakan banyak waktu.
Dari percobaan dapat terlihat bahwa salah satu hal yang menakjubkan dalam penelitian ialah kenyataan bahwa kita dapat menduga sifat-sifat suatu kumpulan objek penelitian hanya dengan mempelajari dan mengamati sebagian dart kumpulan itu. Bagian yang diamati itu disebut sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut populasi. Objek penelitian dapat berupa orang, hewan, maupun tumbuhan.
Dalam penelitian, objek penelitian ini disebut satuan analisis (units of analysis) atau unsur-unsur populasi. Bila kita meneliti seluruh unsur populasi, kita melakukan sensus. Sensus mudah dilakukan bila jumlah populasi terbatas. Sensus, memang, tidak selamanya sempurna. Hasil sensus, Yang mengungkapkan karakteristik populasi (seperti rata-rata, ragam, modus, atau (range), disebut parameter.
Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak, padahal kita ingin menghemat biaya dan waktu, kita harus puas dengan sampel. Karakteristik sampel disebut statistik. Kita sebetulnya tidak tertarik pada statistik. Kita ingin menduga secara cermat parameter dart statistik. Metode pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel harus mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif. Sebaliknya sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur populasi untuk dipilih. Memang, sampel mungkin menunjukkan karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus (Neter, Wasserman, Whitmore, 1979: 195). Statistik dapat membantu kita menentukan sampling error hanya bila kita menggunakan sampel tak bias.
Sampel tak bias adalah sampel yang ditarik berdasarkan probabilitas (probability sampling). Dalam sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai nilai kemungkinan tertentu untuk dipilih. Karena sampel ini mengasumsikan kerandoman (randomness), maka sampel probabilitas lazim juga disebut sebagai sampel random. Bila kita mengambil sampel tertentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita memperoleh sampel pertimbangan (judgemental sampling), disebut juga sample non-probabilitas. Untuk kedua jenis sampling ini, ada beberapa alternatif teknik penelitian sampel. Teknik penarikan sampel sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design).
Dari praktikum yang telah dilakukan mengenai simulasi estimasi populasi hewan. Kami mendapatkan hasil perhitungan menggunakan rumus Schanabel, maka didapat hasil 3612 dan standart errornya adalah 1763 Sedangkan pada data yang dilakukan perhitungan dengan Patersen didapat hasil 2340 dan standart errornya adalah 1044 .Dan selisih yang didapat adalah 449,5 maka untuk selang kepercayaannya tidak dapat kami tampilkan hasil, dikarenakan tidak adanya table distribusi untuk perhitungan.
Model Peterson menangkap sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan ( Penangkapan Ke 2 terhadap sejulah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah diidentifikasi indifidu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan ke dua. Metode schanebel ini dapat digunakan untuk mengurangi ke tidak validan dalam metode Patersen. Metode ini membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2 kali. Untuk setiap periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali. (Agus.1994)






    V.            Kesimpulan
• Percobaan simulasi estimasi populasi hewan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu metode Capture-Mark-Release-Recapture (CMMR)
• Penghitungan sebaran populasi yang diperoleh dapat dilakukan dengan penghitungan Schanabel dan Patersen. Penggunaan rumus Schanabel lebih akurat karena perhitungan dilakukan untuk setiap cuplikan yang dilakukan.
• Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu.



















Daftar Pustaka

Agus,Subagyo 1994. Penuntun Ekologi Umum. Universitas jambi:Jambi
Hadisubroto,tisno.1989. Ekologi Dasar.DeptDikBud : Jakarta
Naughhton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press : Yogyakarta
Soetjipta.1992.Dasar-dasar Ekologi Hewan.DeptDikBud DIKTI : Jakarta
Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara : Jakarta